Selasa, 21 November 2017

BAB 3 KOMUNIKASI DESAIN VISUAL

NAMA                  : SELA MELINDA
NPM                     : 56415454
KELAS                 : 3IA22
MATA KULIAH : DESAIN PEMODELAN GRAFIK
NAMA DOSEN   : SYEFANI RAHMA DESKI




SEJARAH KOMUNIKASI DESAIN VISUAL

Sejak jaman pra-sejarah manusia telah mengenal dan mempraktekkan komunikasi visual. Bentuk komunikasi visual pada jaman ini antara lain adalah piktogram yang digunakan untuk menceritakan kejadian sehari-hari pada Jaman Gua (Cave Age), bentuk lain adalah hieroglyphics yang digunakan oleh bangsa Mesir. 
Kemudian seiring dengan kemajuan jaman dan keahlian manusia, bentuk-bentuk ini beralih ke tulisan, contohnya prasasti, buku, dan lain-lain. Dengan perkembangan kreatifitas manusia, bentuk tulisan ini berkembang lagi menjadi bentuk-bentuk yang lebih menarik dan komunikatif, contohnya seni panggung dan drama; seperti sendratari Ramayana, seni pewayangan yang masih menjadi alat komunikasi yang sangat efektif hingga sekarang.

Sebagai suatu profesi, desain komunikasi visual baru berkembang sekitar tahun 1950-an. Sebelum itu, jika seseorang hendak menyampaikan atau mempromosikan sesuatu secara visual, maka ia harus menggunakan jasa dari bermacam-macam “seniman spesialis”. Spesialis-spesialis ini antara lain adalah visualizers (seniman visualisasi); typographers (penata huruf), yang merencanakan dan mengerjakan teks secara detil dan memberi instruksi kepada percetakan; illustrators, yang memproduksi diagram dan sketsa dan lain-lain.
Dalam perkembangannya, desain komunikasi visual telah melengkapi pekerjaan dari agen periklanan dan tidak hanya mencakup periklanan, tetapi juga desain majalah dan surat kabar yang menampilkan iklan tersebut.Desainer komunikasi visual telah menjadi bagian dari kelompok dalam industri komunikasi - dunia periklanan, penerbitan majalah dan surat kabar, pemasaran dan hubungan masyarakat (public relations).

Bagi kalangan praktisi periklanan dan dunia akademik di bidang komunikasi istilah ini telah dikenal, walaupun Desain Komunikasi Visual merupakan istilah yang baru. Kalangan akademis menyebutnya pun beragam, ada yang menyebut sebagai DKV ( Dekave ) atau DISKOMVIS, yang merupakan akronim dari Desain Komunikasi Visual.
Tanpa kita sadari bila melihat penampakan visual sekeliling kita, sebenarnya kehidupan sehari-hari kita dilingkupi oleh produk-produk bidang Desain Komunikasi Visual. Mulai dari kita bangun di pagi hari hingga terlelap di peraduan, desain komunikasi visual mengiringi kita sepanjang hari hidup kita, baik di perkotaan hinggga pelosok pelosok desa di negeri ini bahkan dari ruang pribadi hingga ruang publik.

Jika kita memulai mendefinisikan Desain Komunikasi Visual ditinjau dari asal kata (etimologi) istilah ini terdiri dari tiga kata, desain diambil dari kata “designo” (Itali) yang artinya gambar. Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa Latin designare) yang artinya merencanakan atau merancang. Dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa ide.
Kemudian kata komunikasi berarti menyampaikan suatu pesan dari komunikator ( penyampai pesan ) kepada komunikan (penerima pesan) melalui suatu media dengan maksud tertentu. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris communication yang diambil dari bahasa Latin “communis” yang berarti “sama” ( dalam Bahasa Inggris:common ). Kemudian komunikasi kemudian dianggap sebagai proses menciptakan suatau kesamaan ( commonness ) atau suatau kesatuan pemikiran antara pengirim ( komunikator ) dan penerima ( komunikan ).
Sementara kata visual bermakna segala sesuatu yang dapat dilihat dan direspon oleh indera penglihatan kita yaitu mata. Berasal dari kata Latin videre yang artinya melihat yang kemudian dimasukkan ke dalam bahasa Inggris visual.
Jadi Desain Komunikasi Visual bisa dikatakan sebagai seni menyampaikan pesan ( arts of commmunication ) dengan menggunakan bahasa rupa ( visual language ) yang disampaikan melalui media berupa desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang ingin diwujudkan. Sedang Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, simbol, ilustrasi gambar/foto, tipografi/huruf dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual yang khas berdasar ilmu tata rupa. Isi pesan diungkapkan secara kreatif dan komunikatif serta mengandung solusi untuk permasalahan yang hendak disampaikan (baik sosial maupun komersial ataupun berupa informasi, identifikasi maupun persuasi).
Dalam Buku Pengantar Metode Penelitian Budaya Rupa, Agus Sachari menjelaskan Desain Komunikasi Visual adalah Profesi yang mengkaji dan mempelajari desain dengan berbagai pendekatan baik hal yang menyangkut komunikasi, media, citra tanda maupun nilai.
Desain komunikasi Visual juga mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi dan pesan, teknologi percetakan, penggunaan teknologi multimedia dan teknik persuasi pada masyarakat.
Ruang lingkup Desain Komunikasi Visual Meliputi:
1.      Advertising (periklanan)
2.      Animasi
3.      Desain identitas Usaha (corporate identity)
4.      Desain Marka lingkungan
5.      Multimedia
6.      Desain Grafis Industri (promosi)
7.      Desain Grafis Media (buku, surat kabar, majalah, dll0
8.      Cergam (komik, karikatur, Poster)
9.      Fotografi, tipografi dan ilustrasi

Sekilas Sejarah Istilah Desain Komunikasi Visual di Indonesia

Istilah desain komunikasi visual yang baru populer belakangan ini, sebenarnya baru dikenal di Indonesia pada awal tahun 1980-an. Dimunculkan oleh Gert Dumbar (seorang desainer grafis Belanda) pada tahun 1977, karena menurutnya desain grafis tidak hanya mengurusi cetak-mencetak saja. Namun juga mengurusi moving image, audio visual, display dan pameran. Sehingga istilah desain grafis tidaklah cukup menampung perkembangan yang kian luas. Maka dimunculkan istilah desain komunikasi visual seperti yang kita kenal sekarang ini.

 Pengertian Desain Komunikasi Visual

Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mengembangkan bentuk bahasa komunikasi visual berupa pengolahan pesan pesan untuk tujuan sosial atau komersial, dari individu atau kelompok yang ditujukan kepada individu atau kelompok lainnya. Pesan dapat berupa informasi produk, jasa atau gagasan yang disampaikan kepada target audience, dalam upaya peningkatan usaha penjualan, peningkatan citra dan publikasi program pemerintah. Pada prinsipnya dkv adalah perancangan untruk menyampaikan pola pikir dari penyampaian pesan kepada penerima pesan, berupa bentuk visual yg komunikatif, efektif, efisien dan tepat. terpola dan terpadu serta estetis, melalui media tertentu sehingga dapat mengubah sikap positif sasaran. elemen desain komunikasi visual adalah gambar/ foto, huruf, warna dan tata letak dalam berbagai media. baik media cetak, massa, elektronika maupun audio visual. akar bidang dkv adalah komunikasi budaya, komunikasi sosial dan komunikasi ekonomi. Tidak seperti seniman yang mementingkan ekspresi perasaan dalam dirinya, seorang desainer komunikasi visual adalah penterjemah dalam komunikasi gagasan. Karena itulah dkv mengajarkan berbagai bahasa visual yang dapat digunakan untuk menterjemahkan pikiran dalam bentuk visual.
PERBEDAAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DAN SENI MURNI
Seni Grafis
Seni grafis (dan ini paling sering disalahartikan sama sebagai desain grafis) adalah masuk ke dalam seni murni (fine arts). Sementara desain grafis masuk ke dalam kelompok seni terapan (applied arts). Ada penggolongan seni menjadi seni murni dan seni terapan. Disebut sebagai seni murni adalah jika tujuan penciptaan seni adalah untuk semata-mata untuk kepuasan bathin dan ekspresi sang seniman semata. Sedangkan seni terapan adalah seni yang tujuan penciptaannya adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan.

Seni grafis adalah cabang seni rupa yang proses pembuatan karyanya menggunakan teknik cetak, biasanya di atas kertas. Kecuali pada teknik Monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak, ini yang disebut dengan proses cetak. Tiap salinan karya dikenal sebagai ‘impression’. Lukisan atau drawing, di sisi lain, menciptakan karya seni orisinil yang unik.

Desain Komunikasi Visual
Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.

Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mengembangkan bentuk bahasa komunikasi visual berupa pengolahan pesan-pesan untuk tujuan sosial atau komersial, dari individu atau kelompok yang ditujukan kepada individu atau kelompok lainnya. Pesan dapat berupa informasi produk, jasa atau gagasan yang disampaikan kepada target audience, dalam upaya peningkatan usaha penjualan, peningkatan citra dan publikasi program pemerintah.



Senin, 20 November 2017

Komunikasi Desain Visual

Mata Kuliah   : Desain Pemodelan Grafik
Nama               : Sela Melinda
NPM                : 56415454

Kelas                : 3IA22
Nama Dosen  : Syefani Rahma Deski




Perbandingan dari kedua jurnal dibawah ini adalah:

Jurnal Nasional
Lebih spesifik tentang isi yang dijelaskan namun referensi atau sumber dari isi jurnal tersebut tidak begitu banyak sehingga informasi yang diperoleh dapat dikatakn tidak terlalu valid. 

Jurnal Internasional
Tidak begitu detail jurnal ini dalam menjelaskan inti dari materi, namun referensi atau sumber dari isi jurnal tersebut begitu banyak dan bersumber dari buku-buku jadi informasi yang diperoleh dapat dikatakan sangat dapat dipercaya atau sangat valid.





JURNAL 1.

JURNAL DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
PERANCANGAN DESAIN SIGN SYSTEM PASAR RASAMALA SEMARANG
Abstrak

Perkembangan signage menurut Formigari dan Gambarara (1995, h.287) berawal setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1909, di Paris diadakan konvensi bagi para pengguna kendaraan bermotor internasional, yang pada akhirnya menghasilkan sistem tanda lalu lintas yang menunjukan kondisi jalan yang berlubang, persimpangan jalan, jalan yang berliku serta persimpangan jalan rel kereta api. Sistem ini mulanya digunakan oleh beberapa negara di Eropa hingga pada akhirnya digunakan oleh negara-negara di dunia. Laporan Tugas Akhir Perancangan   Sign   System   Pasar   Rasamala   bertujuan   untuk   memudahkan pengguna fasilitas bangunan melakukan aktivitas.

Kata Kunci

Sign System, Desain, Pasar Tradisional


1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pasar tradisional adalah pasar yang dalam pelaksanaannya bersifat tradisional dan ditandai dengan pembeli serta penjual yang bertemu secara langsung. Proses jual-beli biasanya melalui proses tawar menawar harga, dan  harga  yang diberikan  untuk  suatu  barang  bukan  merupakan  harga tetap, dalam arti lain masih dapat ditawar, hal ini sangat berbeda dengan pasar modern. Umumnya, pasar tradisional menyediakan bahan-bahan pokok serta keeprluan rumah tangga. Lokasi pasar tradisional dapat berada ditempat yang terbuka atau bahkan dipingir jalan.

Ciri  khas  pasar  tradisional  adalah  adanya  tenda-tenda  tempat penjual memasarkan dagangannya, serta pembeli yang berjalan hilir mudik untuk memilih dan menawar barang yang akan dibelinya.Pasar tradisional tidak sekadar sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga dapat berkembang menjadi lokasi yang multifungsi dan memiliki fungsi sosial dan budaya.
Kota Semarang memiliki banyak bangunan pasar tradisional seperti Pasar Bulu, Pasar Rasamala, dan Pasar Johar yang merupakan salah satu pasar   tradisional   terbesar   di   Kota   Semarang.Kawasan   Perdagangan Johar merupakan  area  pusat  jual-beli  di Kota  Semarang yang  terkenal dengan kelengkapan komoditinya dan menjadi salah satu pusat destinasi belanja masyarakat Semarang.

Pasar Rasamala didirikan pada tahun 1984 di daerah Kelurahan Rasamala, Kecamatan Banyumanik, Semarang. Awalnya Pasar Rasamala terdiri  dari  satu  lantai  saja  dengan  ratusan  lapak  dan  pedagang  yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok seperti sayu segar, daging, bumbu  dapur, dan  jajanan  pasar. Pada awal  tahun 2013  kondisi Pasar Rasamala rusak parah dengan atap bocor dan kondisi tanah yang becek terutama ketika hujan. Pada bulan Agustus 2013 Pasar Rasamala direvitalisasi hingga selesai pada Januari 2014. Bangunan baru Pasar Rasamala yang kini digunakan oleh para pedagang sudah lebih bersih dan tertata rapi.

Berdasarkan hasil survey mengenai sistem informasi / signage di Pasar Rasamala Semarang, terdapat beberapa pokok permasalahan, Salah satu permasalahan pokok di Pasar Rasamala adalah kurangnya signage yang memudahkan para pembeli untuk mencari tempat maupun arah jalan yang akan dituju, sehingga pengunjung merasa kurang nyaman.

Banyak pengunjung yang kesusahan untuk mencari tenant tempat menjual  produk-produk  tertentu,  sehingga  pengunjung  membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan produk yang akan dibelinya.

Sistem alur yang ada di Pasar Rasamala pun masih kurang jelas, ketika  jam  ramai,  pasar  terlihat  sangat  penuh  dan  pembeli  sedikit berdesak-desakan  untuk  berjalan,  disamping  faktor  jalan  yang  cukup sempit di dalam pasar.
Program Revitalisasi Pasar Tradisional digagas dengan maksud menjawab tantangan yang ada yaitu persaingan dengan Pasar modern. Revitalisasi pasar tradisional secara langsung menyentuh kondisi fisik dantata kelola pasar yang nantinya akan meningkatkankunjungan konsumensehingga berdampak pada pendapatan pedagang. Maka dari itu perancangan Signage untuk Pasar Rasamala adalah salah satu upaya untuk mendukung tujuan Dinas Pasar meningkatkan kondisi fisik sekaligus building value pasar Rasamala Semarang.
Salah satu bagian esensial dari environment graphic design adalah signage. Signage merupakan rangkaian representasi visual dan simbolik grafik.  yang  bertujuan  sebagai  media  interaksi  antara  manusia  dengan ruang publik. (Tinarbuko, 2008, h. 12). Jika dilihat dari bahasanya, signsystem berasal dari bahasa inggris, yaitu “sign” yang berarti tanda atau lambang,  dan  “system”  yang  berarti  aturan.  Signage  berfungsi  sebagai salah  satu  media  untuk  menginformasikan  suatu  petunjuk,  peringatan, ataupun larangan.
Menurut Phill Boines (2008, h. 17), signage adalah kumpulan dari tanda-tanda individual yang telah di desain untuk mengidentifikasikan atau mengarahkan. Tanda-tanda yang dipakai di dalam sebuah signage pada dasarnya mengungkapkan makna aturan-aturan yang merupakan standar internasional, sehingga akan mudah untuk dipahami oleh semua orang.
Kebutuhan akan suatu signage/sistem informasi berupa tanda petunjuk arah yang baik semakin berkembang, khususnya bagi kerumunan massa (masyarakat) yang membutuhkan informasi petunjuk arah. Hal ini dikarenakan signage mampu mengkomunikasikan informasi kepada masyarakat dengan cepat dan efektif. Informasi yang disampaikan dalam signage sendiri bersifat deskriptif karena memang ditujukan untuk membedakan orang dan tempat secara khusus dan jelas. Hal ini dilakukan dengan mengelompokkan tempat dan memberikan nama pada tempat atau ruang.   Informasi   yang   dikandung   oleh   informasi   lingkungan   ialah informasi tentang lokasi. (Passini, 1984) dalam Tanuwidjaja7 (2012, hal.15).

Dalam menciptakan suatu signage, diperhatikan pula hal-hal yang perlu dihindari seperti penggunaan tanda-tanda yang terlalu banyak sehingga  menghasilkan  kebingungan  bagi  penggunanya.  Adapula peletakan lokasi serta tingkat keterbacaan yang kurang baik menyebabkan signage tidak dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan warna dan tekstur material yang digunakan juga mempengaruhi mudah-sulitnya ketersampaian informasi. Ukuran huruf dan pencahayaan juga akan berpengaruh,   tergantung   dari   seberapa   jauh   jarak   pandang   yang dibutuhkan, juga jenis huruf apa yang digunakan.

Berdasarkan  permasalahan  yang  ada  di  Pasar  Rasamala,  maka perlu dirancang sebuah sistem tanda, informasi, dan wayfinding di Pasar Rasamala untuk mempermudah publik Pasar Rasamala (pedagang dan pembeli) beraktivitas maupun bertransaksi. Selain itu keberadaan signage yang sesuai dengan identitas Pasar Rasamala sebagai Pasar Tradisional juga akan meningkatkan daya tarik Pasar Tradisional di mata masyarakat.


1.2.  Rumusan Masalah

Bagaimana merancang signage di Pasar Tradisional Rasamala Semarang yang sesuai dengan building identity, untuk mempermudah pengunjung mengenali alur belanja dan tata letak Pasar Rasamala

1.3. Tujuan Penulisan

Merancang signage di Pasar Tradisional Rasamala Semarang yang sesuai dengan building identity, untuk mempermudah pengunjung mengenali alur belanja dan tata letak Pasar Rasamala

2. ISI PERANCANGAN
2.1. Strategi Kreatif
Setiap sign sytem yang dibuat harus mengikuti format yang sudah ditentukan agar ada keselarasan dan kesatuan.
Gambar Format sign system horizontal
Gambar Format sign system vertical
2.2. Studi Pengembangan Tipografi

Jenis tipografi yang digunakan ada 1 jenis yaitu jenis font Lemon Milk. Jenis tipografi ini memiliki tingkat keterbacaan yang baik karena sudutnya yang tegas dan ketebalannya yang tinggi. Tipografi dalam sign system harus jelas, dan mudah terbaca dari jarak jauh. Maka pemilihan font san serif merupakan pilihan yang tepat.


2.3. Pengarahan Visual
Sign system akan terbaca menjadi sebuah satu kesatuan (unity), ketika sign
sytem tersebut memiliki keterikatan satu sama lain, dalam hal ini berupa elemen grafis. Elemen grafis pada signs sytem bisa berupa sebuah bentuk, icon, symbol, atau bahkan warna.

Elemen grafis yang berfungsi sebagai pengikat pada sign system ini harus mampu merepresentasikan citra / image yang akan ditampilkan oleh Pasar Tradisional.   Citra   yang   dibangun   adalah   sebuah   representasi   Pasar Tradisional Rasamala, sehingga pengunjung yang melihatnya bisa langsung mengetahui bahwa elemen grafis tersebut adalah bagian dari sign system Pasar Rasamala.

Penulis memilih tas plastic sebagai be  nda yang mewakili Pasar Tradisional Rasamala. Hampir setiap aktivitas di Pasar Tradisional menggunakan benda ini. Tas plastik cukup merepresentasikan kegiatan perbelanjaan di Pasar Tradisional Rasamala

Selanjutnya plastik ini disesuaikan dalam bentuk elemen grafis sebagai tanda pengikat untuk sign sytem yang ada di Pasar Tradisional Rasamala. Bentuk tas plastic dibuat dalam bentuk vector dan disederhanakan

2.4. Studi Bentuk Dan Warna Sign

Bentuk  desain  signsystem  memenuhi  estetika  desain,  dengan  karakter halus dan fleksibel, dengan begitu sign mudah dipahami dan diaplikasikan. Sementara itu untuk pemilihan warna dipilih 3 warna untuk mewakili 3 lantai yang ada pada Pasar Rasamala, yaitu warna-warna yang cerah agar menarik perhatian pengunjung. Warna yang dipilih adalah warna orange untuk lantai dasar, warna biru untuk lantai 1, dan warna merah muda untuk lantai 2.
Gambar Aplikasi Signage Lantai 2
Warna merah muda adalah warna yang paling dekat dengan mata, warna yang paling pertama terlihat, warna ini melambangkan kemauan keras, persaingan, keberanian, cita cita dan passion. Warna ini cocok untuk lantai 2
Pasar Rasamala sebagai tempat yang paling tinggi dalam struktur bangunan.
Gambar Aplikasi Signage Lantai 1
Warna Biru menjadi warna pada lantai puncak, biru muda memiliki kesan psikologis yang bersahabat, tenang dan santai dan melegakan.
Gambar Aplikasi Signage Lantai Dasar
Orange adalah warna yang memiliki kesan fun,ceria, dan menyenangkan. Warnanya yang cerah membuat aktivitas jual beli di lantai dasar menjadi lebih menyenangkan.



4. PENUTUP
4.1. Kesimpulan


Kesimpulan dari penyusunan laporan Perancangan Sign System di Pasar
Rasamala ini antara lain:

1. Bangunan fungsional dapat diartikan sebagai bangunan yang mampu mengantisipasi, mengontrol, dan beradaptasi dengan lingkungan fisiknya. Dalam merancang sebuah bangunan fungsional, penting untuk adanya pengadaan sign system. Pengunjung merasa lebih mudah untuk beraktivitas di dalam bangunan, terutama untuk menemukan alur jalan (wayfinding) atau menemukan  lokasi  tujuan.  Sign  System  terbukti  meningkatkan  efisiensi waktu para pengunjung mulai dari yang akan mengunjungi, yang beraktifitas di dalamnya, hingga ketika ingin keluar dari bangunan tersebut.

2.   Peletakan   dan   konstruksi   sign   system   yang   tepat   mengkuti   alur pengunjung, konstruksi dan tata letak bangunan memudahkan pengunjung mengakses sign system tersebut dengan keterbacaan yang baik sesuai dengan kebutuhan.

3. Sign system efektif untuk mengurangi penumpukan keramaian pada titik tertentu di sebuah bangunan.

4.2. Saran

Saran bagi Pengelola Pasar Tradisional Rasamala adalah agar pembuatan sign system untuk Pasar Rasamala bisa diterapkan sesuai penelitian yang mahasiswa lakukan, agar segala aspeknya terpenuhi seperti estetika, desain, dan fungsional.

Saran bagi mahasiswa peneliti antara lain agar dapat meningkatkan penelitian   yang   dilakukan   tentang   kebutuhan   sign   system   di   Pasar Tradisional Rasamala. Pengkajian lebih dalam tentang penyederhanaan symbol yang ada pada sign system agar dapat dipahami dengan mudah oleh segmen pengunjung Pasar Tradisional

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur penulis panjatkn ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan  rahmat  dan  karuni-Nya  sehingga  penulis  dapat  menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Sign System Pasar Tradisional Rasamala”

Dukungan dari berbagai pihak sangat membantu dalam kelancaran penyusunan Tugas Akhir ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.Bapak Adji Nugroho, M.Sn. selaku dosen Pebimbing 1 yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan Tugas Akhir ini.
2.  Bapak  Muhammad  Taufik,  S.Sn  selaku  dosen  Pebimbing  2  yang  telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan Tugas Akhir ini.
3.  Bapak  dan  Ibu  Dosen  Jurusan  Desain  Komunikasi  Visual  yang  telah memberikan ilmu yang bermanfaat selama masa kuliah.
4. Semua pihk yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telh mendukung penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Penulis berharap Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi seluruh civitas akademika   di   Unversitas   Dian   Nuswantoro   khususnya   Jurusan   Desain Komunikasi Visual.

DAFTAR PUSTAKA


Ebdi, Sadjiman. S.2006. Nirmana, Elemen-Elemen Seni dan Desain. Yogyakarta: Jalasutra.

Piliang, Yasraf Amir. 2011. Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya dan
Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra

Supriyono, Rakhmat. 2010. Desain Komunikasi Visual teori dan
Aplikasi.Yogyakarta: Andi.

Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2005. Dasar-Dasar Seni dan Desain. Yogyakarta: Jalasutra.

Tanuwidjaja, Gunawan. 2012. Kualitas Elemen Arsitektur sebagai Penunjang Kemudahan Wayfinding dan Orientasi di Gedung Universitas Kristen Petra. Surabaya

Tinarbuko, Sumbo. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.



JURNAL 2.


Effects of Using Visual Design Principles to Group
Response Options in Web Surveys

Jolene D. Smyth, Don A. Dillman, Leah M. Christian, Michael J. Stern

Social Economic Sciences Research Center, Washington State University 


Abstract:  In this paper, we show that in Web questionnaires verbal and visual languages can be used to create groups and subgroups of information, which influence how respondents process Web questionnaires.   Following Schwarz  (1996; and also Schwarz,  Grayson,  & Knรคuper,  1998) we argue that respondents  act as cooperative communicators   who  use  formal   features   of  the  questionnaire   to  help  guide   them   through   the  survey conversation.     Using  data  from  three  Web  surveys  of  random  samples  of  Washington   State  University undergraduates,  we found that when response options are placed in close graphical proximity to each other and separated from other options, respondents perceive visual subgroups of the categories, increasing the likelihood that they select an answer from each subgroup.   We also found that graphical proximity creates subgroups with and without the use of category heading to describe the subgroups and that the addition of a verbal instruction to “please  select  the best answer”  encouraged  respondents  to select one answer  from each subgroup  instead  of overriding  the effects of proximity.   In addition,  the effects of grouping  were consistent  when the subgroups were positioned  either vertically  or horizontally  in relation to each other.   Lastly, we found that the effects of visual  grouping  are  consistent  across  both  opinion-  and  behavior/fact-based   questions,  although  the  effects appear to be greater on opinion-based  questions.   Our findings contribute  to the increasing  evidence that both verbal and visual languages influence how respondents  process and respond to surveys.   Because respondents interpret  the  verbal  and  graphical  features  of  survey  questionnaires   as  relevant  to  answering  the  survey, inadvertent or stylistic design changes can influence how respondents process and respond to survey questions.

 introduction
Each question on a self-administered  questionnaire  can be viewed as a group of visually presented content that consists of the query, any instructions, response choices (unless open-ended),  and spaces where answers are to be marked. Survey researchers  have proposed  that questionnaires  be designed in a manner that clearly shows each question as a distinct group and that each question group be presented  in a way that the respondent  can infer the order in which questions and their sub-parts are to be processed and answered (Dillman, 2000). Thus, the questionnaire  can be viewed as a sequence of information that is divided into interconnected  groupings and sub-groupings  of question content. However, relatively  little research has been done to conceptualize  and test Revision of paper presented at the 2004 Annual Meeting of the American Association for Public Opinion Research, Phoenix, AZ, May 13, 2004. The research reported here was funded in part under Cooperative Agreement 43-3AEU-1-80055 between the SESRC and the United States Department  of Agriculture  National Agricultural  Statistics Service with support from the National Science Foundation  Division of Sciences Resource Statistics.   We appreciate the encouragement  of NSF-SRS  staff to undertake this investigation.
Direct  all correspondence  to Jolene Smyth,  Department  of Sociology  and the Social Economic  Sciences  Research  Center
(SESRC) at Washington State University, Pullman, Washington 99164-4014, USA. E-mail:  jsmyth@wsu.edu.

Research on how human beings process visual information  has shown that people are more likely to perceive particular configurations of stimuli as one group.  Changes in spacing, color, brightness, size, orientation, figure- ground,  and/or  common  fate,  can  each  influence  whether  stimuli  appear  to  subjects  as  groups  or  as  an undifferentiated  series of visual stimuli (Palmer, 1999, p. 257-261). Experimental  research has also shown that respondent  comprehension  of questions,  instructions  and answers can be significantly  influenced  by graphical manipulations  for both paper (Christian  & Dillman, 2004) and Web (Christian, 2003) questionnaires.  Some of these effects may result from how the graphical language establishes grouping, thus affecting how respondents process the survey and its questions.

Our purpose in this paper is to report results from a series of experimental  manipulations  designed to examine whether alternative  visual groupings of response options influences respondent  answers to survey questions in Web  surveys.    Specifically,  we  examine  whether  or  not  the  use  of  headings  and  spacing  to  form  visually distinctive  subgroups  of  response  options  (as  shown  in  Figure  1)  affects  responses.  The  question  format subjected  to  experimental  testing  was  identified  as  presenting  significant  difficulties  to  pretest  respondents during  the  evaluation  of  a  Web  prototype  of  the  NSF  sponsored  National  Survey  of  Earned  Doctorates (Altheimer & Dillman, 2002).  This research was undertaken to identify possible solutions to those problems as well as to contribute to our understanding of how visual design influences respondent answers through grouping processes.

procedures 
Over a year and a half period three Web survey experiments were conducted.   Survey dates, sample sizes, and response rates can be found in Table 1 along with other descriptive  information  about each survey.   All three surveys were designed to assess the undergraduate experience at Washington State University (WSU) and in the surrounding   community,   although  there  was  some  variation   in  question  topic  across  the  surveys.     The respondents  for each survey consisted  of a randomly  selected  sample of students  registered  for classes at the Pullman campus of WSU during the semester the respective survey was fielded.

Result

Does Vertical Grouping of Response Options Yield Different Answers than No Grouping?


Results  from  the first set of experiments  make  it clear  that  the use of the headings  and  spacing  (Figure  2) influenced answer choices, as expected (see Table 2).  Respondents to the vertically grouped version (version 1) not only chose more response categories than the respondents to the version with no subgrouping, but were more likely to choose at least one answer from each of the sub-groupings  (70.2% vs. 40.9%).   These results clearly suggest that the use of headings and accompanying  separation  to establish two visual sub-groupings  influence responses.

Discussion and Conclusions

Our research  demonstrates  that the use of visual design principles  to create groups and subgroups  of information influences  how  respondents  answer  Web  survey  questions.    The  findings  appear  to  support  Schwarz’s  (1996) argument that respondents gain information about the researcher’s expectations from the visual design and layout of the survey instrument  and then use that information  when answering  the questions.   When answer categories  are separated using graphical language and applying the Gestalt principle of proximity, respondents  are more likely to perceive  the  response  options  as  belonging  to  separate  sub-groups.    That  perception  then  guides  their  response strategy, making them more likely to choose at least one response option from each sub-group.   This sub-grouping may be further reinforced if respondents use the heuristic “near means related” to draw inferences about the degree of conceptual similarity or difference among response options based on their proximity to one another.
We  also  confirm  findings  from  cognitive  interviews  conducted  using  the  Survey  of  Earned  Doctorates  Web prototype where it was originally found that respondents tried to select one option from each subgroup.   However, unlike the experiments  reported here, in the Survey of Earned Doctorates  respondents  reported their answer using radio buttons instead of html boxes.   This meant that when respondents  selected a second category it replaced the selection of the first, creating an additional source of respondent frustration.   Thus, our findings suggest that what started  out as a helpful  design  element,  the graphical  subgrouping  of related  response  options  under  descriptive headings  in  the  Survey  of  Earned  Doctorates,  may  have  inadvertently   created  response  error  and  increased respondent frustration in both the paper version of that survey and in subsequent Web versions.
In the Survey of Earned Doctorates prototype, verbal category headings and graphical proximity were used to create subgroups of response categories.  We tested these effects separately and found that graphical separation of response options was more influential  in establishing  grouping  than was the use of verbal category  headings  to define  the categories.   In a separate test we found that respondents continued to select at least one answer from each subgroup when they were instructed to “select the best answer”; even with the instruction, the effects of the visual subgrouping of response categories still occurred.  It appears as if respondents interpreted the instruction to select the best answer in conjunction with the perceived expectations established by the visual grouping.   The combined verbal and visual message seemed to be, “please select the best answer from each subgroup.”
While the response subgroups were placed vertically, one on top of the other, in the Survey of Earned Doctorates (both  the  original  paper  version  and  the  Web  prototype),  we  experimentally  tested  the  effects  of  placing  the subgroups  both  horizontally  (one  next  to  the  other)  and  vertically.    We  found  that  the  influence  of  visually subgrouping the response options occurred regardless of the location of the subgroups in relation to each other.  In addition,  we replicated  the Survey  of Earned  Doctorates  question  type by testing the effects of grouping  using  a behavior/fact-based  question  which  asked students  about their sources of financial support while attending  WSU. However,  we also tested the effects of grouping  and subgrouping  using a question  requesting  students’  opinions.
The effects  of grouping  were much larger for the opinion-  than the behavioral/fact-based  question,  but remained significant  across both types of questions.   Both of these findings  suggest  that the effects of visual grouping  and subgrouping  seem  robust  in  that  they  occur  regardless  of  the  graphical  orientation  of  the  subgroups  and  they influence the response patterns of various types of survey questions.
The practical  implication  of these  findings  is that  survey  designers  must  take  the grouping  and  subgrouping  of questions  and  response  options  into  consideration   when  constructing  surveys.     Inadvertent  graphical  changes resulting in the grouping of information can have significant effects on respondent processing and answering.  More generally,  both verbal  and visual languages  must be considered  throughout  the design  process  as it is becoming increasingly clear that respondents use both types of languages when processing and responding to surveys.

References
Altheimer,  I., & Dillman,  D. A. (2002).   Results  from cognitive  interviews  of nsf earned  doctorate  Web survey.
(Social & Economic Sciences Research Center Technical Report #02-30). Pullman, WA.

Christian,  L.  M. (2003).   The influence  of visual  layout  on scalar  questions  in Web  surveys.  Washington  State
University, Pullman, WA:  Unpublished master’s thesis.

Christian,  L. M., & Dillman,  D. A. (2004).   The influence  of graphical  and symbolic  language  manipulations  on responses to self-administered questions. Public Opinion Quarterly, 68, 58-81.

Couper, M. P., Traugott, M. W., & Lamias, M. J. (2001).   Web survey design and administration.   Public Opinion
Quarterly, 65, 230-254.
Dillman, D. A. (2000).  Mail and Internet surveys:  The tailored design method (2nd ed.).  New York, NY:  Wiley. Jenkins,  C. R., & Dillman,  D. A. (1997).   Towards  a theory of self-administered  questionnaire  design.   In L. E.
Lyberg, P. Biemer, M. Collins, E. de Leeuw, C. Dippo, N. Schwarz, & D. Trewin (Eds.), Survey measurement and process quality (pp.  165-198).  New York, NY:  Wiley.

Neisser, U. (1967).  Cognitive psychology.  New York, NY:  Meredith Publishing Company. Palmer, S. E. (1999).  Vision science photons to phenomenology.  Cambridge, MA:  MIT Press.
Redline, C., & Dillman D. A. (2002).  The influence of alternative visual designs on respondents’ performance with branching instructions in self-administered  questionnaires. In R. M. Groves, D. A. Dillman, J. L. Eltinge, & R. J. A. Little (Eds.) Survey nonresponse (pp.  179-196).  New York, NY:  Wiley.

Redline,  C., Dillman,  D. A., Aref, D. N., & Scaggs,  M. A. (2003).   Improving  navigational  performance  in u.s. census 2000 by altering the visually administered languages of branching instructions.  Journal of Official Statistics.
19, 403-419.

Schwarz,  N.  (1996).  Cognition  and  communication:     Judgmental  biases,  research  methods,  and  the  logic  of conversation.  Mahwah, New Jersey:  Lawrence Erlbaum.

Schwarz,  N., Grayson,  E. G., & Knรคuper,  B. (1998).   Formal  measures  of rating scales  and the interpretation  of question meaning.  International Journal of Public Opinion Research, 10, 177-183.

Tourangeau, R., Couper, M. P., & Conrad, F. (2004).  Spacing, position, and order:  Interpretive heuristics for visual features of survey questions.  Public Opinion Quarterly, 68, 368-393.